KP @ P.T. Indoserako Sejahtera Part II : Relay Part I : Pengertian & Cara Kerja

By : Giovanni Sutanto NIM 132 05 038

Relay adalah suatu komponen yang bekerja secara elektromagnetik-mekanik untuk keperluan switching. Relay dapat menggantikan transistor (atau bisa juga dikombinasikan) pada aplikasi switching dengan tegangan dan arus yang besar, baik AC maupun DC. Pengetahuan akan Relay sangat penting bagi mahasiswa Teknik Elektro, tapi entah mengapa di kuliah maupun praktikum hanya sedikit diajarkan. Berikut ini gambar skematik sebuah relay :

Pada keadaan awal, yaitu pada saat coil relay tidak diberi tegangan, maka yang terhubung-singkat adalah contact Normally Close (NC). Sedangkan contact Normally Open (NO) mengalami hubung-terbuka.

Jika sebuah relay 24 Volt DC diberi tegangan sebesar 24 Volt DC pada coil-nya (perhatikan polaritas tegangan dan polaritas coil, harus sama, + pada + & – pada -), maka relay tersebut akan mengalami switching seperti berikut :

Pada keadaan ini, yang terhubung-singkat adalah contact Normally Open (NO), sementara contact Normally Close (NC) mengalami hubung-terbuka.

Proses switching pada relay DC dapat dijelaskan sebagai berikut. Coil pada relay merupakan sebuah kumparan yang berintikan material batang yang sifat kemagnetannya mudah ditimbulkan dan mudah dihilangkan. Ketika ada arus yang mengaliri kumparan, maka akan muncul medan magnet pada inti batang dengan kutub magnet sesuai aturan tangan kanan (proses elektromagnetik). Munculnya medan magnet pada inti batang kumparan ini menarik material magnetik (proses mekanik akibat adanya medan magnet), tempat di mana contact-contact relay melekat. Akibatnya contact mengalami perubahan posisi dari posisinya semula, NC yang semulanya hubung-singkat menjadi hubung-terbuka, NO yang semulanya hubung-terbuka menjadi hubung-singkat.

Untuk aplikasi pada rangkaian elektronik, sebaiknya dipasang dioda pada coil relay, seperti berikut :


Hal ini berdasarkan pada sifat induktor, di mana arus harus bersifat kontinyu. Dengan adanya dioda, maka pada saat tegangan 24 Volt DC secara tiba-tiba dihilangkan (dengan pengubahan posisi saklar), maka arus pada coil akan mengalir melalui dioda, sehingga arus coil mengalami penurunan secara perlahan dan kontinyu hingga mencapai 0 A (panas karena arus listrik didisipasikan melalui dioda).

Penggunaan relay saat ini sangat banyak, salah satunya untuk otomasi pabrik pada jaman dahulu, di mana belum ada PLC. Saat itu, rangkaian untuk otomasi pabrik berupa rangkaian relay secara hard-wired. Pada masa kini, dengan PLC, rangkaian relay hard-wired digantikan oleh software. Contoh rangkaian relay yang merupakan dasar dari software PLC adalah rangkaian interlock, yang akan dibahas pada post “KP @ P.T. Indoserako Sejahtera Part II : Relay Part II : Rangkaian Interlock“.

Best Regards,

Giovanni Sutanto

No comments yet

Leave a reply